Interton

Essential Hearing.

Interton TV Streamer

Enjoy a great TV experience with Interton wireless TV Streamer.

Better Hearing Indonesia

Better Hearing For a better quality of life...

Better Hearing Indonesia

get clear hearing for a better life..

Nano Coating

Maximum protection from sweat and humidity.

Senin, 18 Maret 2013

Nano Coating - INTERTON


Maksimum perlindungan dari keringat dan kelembaban
Alat pendengar kami diperlakukan dengan lapisan tipis berbasis teknologi modern nano coat.
Nano coating adalah lapisan polimer, seribu kali lebih tipis dari rambut manusia, yang membentuk lapisan pelindung pada setiap bagian dari perangkat pendengaran. Ketika kelembaban atau keringat bersentuhan dengan itu, kelembapan itu akan membentuk seperti Kristal-kristal air, atau gambaran jelasnya anda dapat melihat daun talas yang terkena air.
Nano coating melindungi baik itu body Alat bantu dengar , dan semua elektronik di dalamnya dari segala jenis cairan. Hal ini meningkatkan masa pakai alat bantu dengar, dan sangat meningkatkan kehandalan.
Cukup Aman untuk memakainya
Pengguna alat bantu dengar tidak perlu khawatir lagi menggunakan alat bantu dengar dalam setiap kondisi, dan terbebas dari belenggu  rasa takut akan kelembapan. Tidak ada yang perlu di khawatir kan bila tanpa sengaja terkena hujan, keringat atau kelembaban lain. Anda akan merasa lebih percaya diri dan lebih puas dengan kualitas tinggi dari alat bantu dengar yang kami jual.
Singkatnya, nano coating menambah pengalaman bebas masalah dan pelanggan yang sangat puas.

Nano Coating
Untuk lebih jelas anda dapat Menonton sebuah video penjelasan mengenai  Nano coating.
Maksimum perlindungan
Nano coating melapisi Alat pendengaran anda untuk perlindungan yang maksimal terhadap kelembaban keringat,  dan bahkan langsung  air sekalipun.
lebih handal
Karena kelembapan tidak dapat menempel pada alat pendengar yang dilapisi nano coating dan sulit untuk merusak alat bantu dengar itu. Sedikit kelembapan air berarti jarang terjadi kerusakan dan akan membuat alat bantu dengar (jarang service karena rusak).
Tahan lebih lama
Dengan perlindungan alat bantu dengar dari kelembapan, komponen elektronik hampir tidak ada terjadi korosi, sehingga alat bantu dengar lebih awet dan tahan lama.
Higienis
Tidak ada yang menempel pada perangkat pendengaran. Tidak ada kelembaban, tidak ada air. Jadi mudah dibersihkan, dan terlihat seperti baru sepanjang masa.
Pengujian ekstensif menunjukkan perbedaan
Tes kelayakan yang kami lakukan menunjukan adanya perbedaan antara yang dilapisan nano coating dan tidak, ternyata menunjukan perbedaan pada alat bantu dengar. 
Kami lakukan pengetesan alat bantu dengar dengan memberikan kelembapan ke kondisi yang tidak biasanya dengan waktu 5 minggu dalam keadaan lembab.
Setelah pengujian, alat bantu dengar dengan nano coating menunjukan tidak ada efek sama sekali pada pemberian kelembapan selama 5 minggu. Sementara lebih dari 60% alat bantu dengar yang tidak dilapisi nano coating tidak berfungsi atau mati. Ini menunjukan nano coating 100% bekerja lebih baik dalam melindungi alat bantu dengar.

Tes Pendengaran Dewasa



Tes pendengaran untuk orang dewasa dapat dilakukan dengan cara subjektif, sangat berbeda dengan pemeriksaan anak dibawah usia 8 tahun yang harus dilakukan pemeriksaan objektif, yaitu si anak menjadi objek,  pemeriksa harus aktif menilai dengan menggunakan peralatan yang ada. anak usia diatas 9 tahun pun terkadang sudah dapat dilakukan dengan cara subjektif layaknya pemeriksaan dewasa. Pemeriksaan subjektif sangat dibutuhkan reaksi dari pasien, karena seorang pemeriksa akan melakukan perintah-perintah yang harus dipahami oleh pasien dan harus dijalankan sesuai instruksinya, adapun harus harus menjawab atau melakukan sesuatu harus dilakukan sesuai perintah pemeriksa, inilah yang dimaksud dengan tes subjektif
Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita, yaitu :
  1. Tes bisik.
  2. Tes bisik modifikasi.
  3. Tes garpu tala.
  4. Pemeriksaan audiometri.
  5. Tes Bisik

Ada 3 syarat utama bila kita melakukan tes bisik, yaitu :
  1. Syarat tempat.
  2. Syarat penderita.
  3. Syarat pemeriksa.

Ada 3 syarat tempat kita melakukan tes bisik, yaitu :
  1. Ruangannya sunyi.
  2. Tidak terjadi echo / gema. Caranya dinding tidak rata, terbuat dari soft board, atau tertutup kain korden.
  3. Jarak minimal 6 meter.

Ada 4 syarat bagi penderita saat kita melakukan tes bisik, yaitu :
  1. Kedua mata penderita kita tutup agar ia tidak melihat gerakan bibir pemeriksa.
  2. Telinga pasien yang diperiksa, kita hadapkan ke arah pemeriksa.
  3. Telinga pasien yang tidak diperiksa, kita tutup (masking). Caranya tragus telinga tersebut kita tekan ke arah meatus akustikus eksterna atau kita menyumbatnya dengan kapas yang telah kita basahi dengan gliserin.
  4. Penderita mengulangi dengan keras dan jelas setiap kata yang kita ucapkan.

Ada 2 syarat bagi pemeriksa saat melakukan tes bisik, yaitu :
  • Pemeriksa membisikkan kata menggunakan cadangan udara paru-paru setelah fase ekspirasi.
  • Pemeriksa membisikkan 1 atau 2 suku kata yang telah dikenal penderita. Biasanya kita menyebutkan nama benda-benda yang ada disekitar kita.
Teknik pemeriksaan pada tes bisik, yaitu :
Penderita dan pemeriksa sama-sama berdiri. Hanya pemeriksa yang boleh berpindah tempat. Pertama-tama pemeriksa membisikkan kata pada jarak 1 meter dari penderita. Pemeriksa lalu mundur pada jarak 2 meter dari penderita bilamana penderita mampu mendengar semua kata yang kita bisikkan. Demikian seterusnya sampai penderita hanya mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan kepadanya. Jumlah kata yang kita bisikkan biasanya 5 atau 10. Jadi tajam pendengaran penderita kita ukur dari jarak antara pemeriksa dengan penderita dimana penderita masih mampu mendengar 80% dari semua kata yang kita ucapkan (4 dari 5 kata).
Kita dapat lebih memastikan tajam pendengaran penderita dengan cara mengulangi pemeriksaan. Misalnya tajam pendengaran penderita 4 meter. Kita maju pada jarak 3 meter dari pasien lalu membisikkan 5 kata dan penderita mampu mendengar semuanya. Kita kemudian mundur pada jarak 4 meter dari penderita lalu membisikkan 5 kata dan penderita masih mampu mendengar 4 kata (80%).
Ada 2 jenis penilaian pada tes pendengaran, yaitu :
  • Penilaian kuantitatif seperti pemeriksaan tajam pendengaran pada tes bisik maupun tes bisik modifikasi.
  • Penilaian kualitatif seperti pemeriksaan jenis ketulian pada tes garpu tala dan audiometri.

Ada 3 jenis ketulian, yaitu :
  1. Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL).
  2. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL).
  3. Tuli sensorineural & konduktif / mix hearing loss (MHL).
Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi. Misalnya tidak dapat mendengar huruf S dari kata susu sehingga penderita mendengarnya uu.
Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss.

Ada 3 jenis frekuensi, yaitu :
  1. Frekuensi rendah. Meliputi 16 Hz, 32 Hz, 64 Hz, dan 128 Hz.
  2. Frekuensi normal. Frekuensi yang dapat didengar oleh manusia berpendengaran normal. Meliputi 256 Hz, 512 Hz, 1024 Hz, dan 2048 Hz.
  3. Frekuensi tinggi. Meliputi 4096 Hz dan 8192 Hz.
Tes bisik modifikasi merupakan hasil perubahan tertentu dari tes bisik. Tes bisik modifikasi kita gunakan sebagai skrining pendengaran dari kelompok orang berpendengaran normal dengan kelompok orang berpendengaran abnormal dari sejumlah besar populasi. Misalnya tes kesehatan pada penerimaan CPNS.
Cara kita melakukan tes bisik modifikasi, yaitu :
Kita melakukannya dalam ruangan kedap suara.
Kita membisikkan 10 kata dengan intensitas suara lebih kecil dari tes bisik konvensional karena jaraknya juga lebih dekat dari jarak pada tes bisik konvensional.
Cara kita memperlebar jarak dengan penderita yaitu dengan menolehkan kepala kita atau kita berada dibelakang penderita sambil melakukan masking (menutup telinga penderita yang tidak kita periksa dengan menekan tragus penderita ke arah meatus akustikus eksternus).
Pendengaran penderita normal bilamana penderita masih bisa mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan.

Ada 4 jenis tes garpu tala yang bisa kita lakukan, yaitu :
  1. Tes batas atas & batas bawah.
  2. Tes Rinne.
  3. Tes Weber.
  4. Tes Schwabach.

Tes Batas Atas & Batas Bawah
Tujuan kita melakukan tes batas atas & batas bawah yaitu agar kita dapat menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar pasien dengan hantaran udara pada intensitas ambang normal.
Cara kita melakukan tes batas atas & batas bawah, yaitu :
Semua garpu tala kita bunyikan satu per satu. Kita bisa memulainya dari garpu tala berfrekuensi paling rendah sampai garpu tala berfrekuensi paling tinggi atau sebaliknya.
Cara kita membunyikan garpu tala yaitu dengan memegang tangkai garpu tala lalu memetik secara lunak kedua kaki garpu tala dengan ujung jari atau kuku kita.
Bunyi garpu tala terlebih dahulu didengar oleh pemeriksa sampai bunyinya hampir hilang. Hal ini untuk mendapatkan bunyi berintensitas paling rendah bagi orang normal / nilai normal ambang.
Secepatnya garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien pada jarak 1-2 cm secara tegak dan kedua kaki garpu tala berada pada garis hayal yang menghubungkan antara meatus akustikus eksternus kanan dan kiri.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes batas atas & batas bawah yang kita lakukan, yaitu :
  1. Normal. Jika pasien dapat mendengar garpu tala pada semua frekuensi.
  2. Tuli konduktif. Batas bawah naik dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi rendah.
  3. Tuli sensorineural. Batas atas turun dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi tinggi.
Kesalahan interpretasi dapat terjadi jika kita membunyikan garpu tala terlalu keras sehingga kita tidak dapat mendeteksi pada frekuensi berapa pasien tidak mampu lagi mendengar bunyi.

Tujuan kita melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien.
Ada 2 cara kita melakukan tes Rinne, yaitu :
Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak mendengar bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya.
Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tankainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Segera pindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksternus. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garpu tala didepan meatus akustikus eksterna lebih keras dari pada dibelakang meatus akustikus eksterna (planum mastoid). Tes Rinne positif jika pasien mendengarnya lebih keras. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien mendengarnya lebih lemah.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes Rinne yang kita lakukan, yaitu :
  1. Normal. Jika tes Rinne positif.
  2. Tuli konduktif. Jika tes Rinne negatif.
  3. Tuli sensorineural. Jika tes Rinne positif.
Interpretasi tes Rinne dapat false Rinne baik pseudo positif dan pseudo negatif. Hal ini dapat terjadi manakala telinga pasien yang tidak kita tes menangkap bunyi garpu tala karena telinga tersebut pendengarannya jauh lebih baik daripada telinga pasien yang kita periksa.
Kesalahan pemeriksaan pada tes Rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan garpu tala tidak tegak lurus, tangkai garpu tala mengenai rambut pasien dan kaki garpu tala mengenai aurikulum pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal.
Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garpu tala saat kita menempatkan garpu tala di planum mastoid pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garpu tala sudah berhenti saat kita memindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksterna.

Tujuan kita melakukan tes Weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien.
Cara kita melakukan tes Weber yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis median (dahi, verteks, dagu, atau gigi insisivus) dengan kedua kakinya berada pada garis horizontal. Menurut pasien, telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras.
Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras pada 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua telinga pasien sama-sama tidak mendengar atau sama-sama mendengar maka berarti tidak ada lateralisasi.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes Weber yang kita lakukan, yaitu :
  1. Normal. Jika tidak ada lateralisasi.
  2. Tuli konduktif. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit.
  3. Tuli sensorineural. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sehat.
Misalnya terjadi lateralisasi ke kanan maka ada 5 kemungkinan yang bisa terjadi pada telinga pasien, yaitu :
  1. Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri normal.
  2. Telinga kanan dan telinga kiri mengalami tuli konduktif tetapi telinga kanan lebih parah.
  3. Telinga kiri mengalami tuli sensorineural sedangkan telinga kanan normal.
  4. Telinga kiri dan telinga kanan mengalami tuli sensorineural tetapi telinga kiri lebih parah.
  5. Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri mengalami tuli sensorineural.
Tujuan kita melakukan tes Schwabach adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dengan pasien.
Cara kita melakukan tes Schwabach yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. Setelah bunyinya tidak terdengar oleh pemeriksa, segera garpu tala tersebut kita pindahkan dan letakkan tegak lurus pada planum mastoid pasien. Apabila pasien masih bisa mendengar bunyinya berarti Scwabach memanjang. Sebaliknya jika pasien juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek atau normal.
Cara kita memilih apakah Schwabach memendek atau normal yaitu mengulangi tes Schwabach secara terbalik. Pertama-tama kita membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pasien. Setelah pasien tidak mendengarnya, segera garpu tala kita pindahkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. Jika pemeriksa juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach normal. Sebaliknya jika pemeriksa masih bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes Schwabach yang kita lakukan, yaitu :
  1. Normal. Schwabch normal.
  2. Tuli konduktif. Schwabach memanjang.
  3. Tuli sensorineural. Schwabach memendek.
Kesalahan pemeriksaan pada tes Schwabach dapat saja terjadi. Misalnya tangkai garpu tala tidak berdiri dengan baik, kaki garpu tala tersentuh, atau pasien lambat memberikan isyarat tentang hilangnya bunyi.
  1. Tuli Konduksi Tes Pendengaran Tuli Sensori Neural
  2. Tidak dengar huruf lunak
  3. Dengar huruf desis Tes Bisik Dengar huruf lunak
  4. Tidak dengar huruf desis
  5. Normal Batas Atas Menurun
  6. Naik Batas Bawah Normal
  7. Negatif Tes Rinne Positif, false positif / false negatif
  8. Lateralisasi ke sisi sakit Tes Weber Lateralisasi ke sisi sehat
  9. Memanjang Tes Schwabach Memendek
Daftar Pustaka
Prof. Dr. dr. Sardjono Soedjak, MHPEd, Sp.THT, dr. Sri Rukmini, Sp.THT, dr. Sri Herawati, Sp.THT & dr. Sri Sukesi, Sp.THT. Teknik Pemeriksaan Telinga, Hidung & Tenggorok. Jakarta : EGC. 2000.

Alat Bantu Dengar Gangguan Sangat Berat




Alat Bantu Dengar Gangguan Berat



Alat Bantu Dengar Gangguan Ringan - Sedang



Menentukan Alat Bantu Dengar


Bingung dalam memilih alat bantu dengar ?
Tak perlu binggung untuk memilih alat bantu dengar. Hal yang harus dilakukan dalam memilih untuk menggunakan alat bantu dengar yaitu dengan memeriksakan pendengaran menggunakan tes Audiometri terlebih dahulu, hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil Audiogram yang pada akhirnya dapat menentukan alat bantu dengar yang tepat untuk gangguan pendengaran yang dialami.
Definisi Audiometri nada murni
Audiometri nada murni adalah langkah pemeriksaan lanjutan setelah pasien melewati tahapan anamnesa dan otoskopi, definisi audiometri itu sendiri adalah pemeriksaan ambang dengar seseorang dengan memberikan stimulus bunyi pada frekuensi dan intensitas tertentu, hasil dari pemeriksaan Audiometer dicatat dalam suatu catatan yang disebut Audiogram
Pada dasarnya telinga manusia dapat mendengar melalui dua cara, pertama melalui hantaran udara dan yang kedua hantaran tulang. Pada proses mendengar melalui hantaran udara, bunyi didengar melalui jalur yang biasa, yaitu masuk melalui saluran pendengaran kemudian ke gendang telinga selanjutnya ke rumah siput hingga sampai ke otak. Sedangkan pada proses pendengaran melalui hantaran tulang, gelombang bunyi akan menggetarkan tulang tengkorak yang kemudian getaran tersebut akan menggetarkan hear cell di rumah siput, para ahli sendiri hingga kini belum mengetahui dengan jelas proses terjadinya bunyi melalui hantaran tulang secara detail. Contoh proses mendengar melalui hantaran tulang adalah apabila kita menggaruk kulit kepala kita, maka suara itu didengar melalui hantaran tulang, namun bila kita menggaruk baju kita maka proses mendengarnya adalah melalui hantaran udara. 
Pada tes pendengaran dengan menggunakan Audiometri terdapat dua tes yang dilakukan yang pertama hantaran udara dan hantaran tulang 

Audiogram merupakan catatan dari hasil pemeriksaan Audometri. pada Audiogram terdiri dari dua bentuk tingkatan yaitu frekuensi dan hearing level. Frekuensi diawali dari 250 – 8000HZ, dan Intensitas suara (hearing Level) dengan satuan dB (desible) dari -10 sampai 120dB.
Keterangan gambar cara membaca Audiogram untuk menentukan Alat bantu dengar yang tepat
0 hantaran udara telinga sebelah kiri, < hantaran tulang telinga sebelah kiri
X hantaran udara telinga sebelah kanan, > hantaran tulang telinga sebelah kanan
Pada hearing level dan frekuensi dapat di klasifikasikan seperti pada gambar di bawah ini :
Pada klasifikasi hearing Level disini kita dapat membaginya kedalam 3 bagian yaitu suara lembut yang berkisar antara -10dB sampai dengan 35dB ilustrasi gambaran suara lembut yaitu suara di suasan taman yang jauh dari keramaian. Untuk klasifikasi suara sedang kisaran 40dB sampai dengan 70dB suara yang termasuk kedalam suara sedang dapat di ilustrasikan pada suara ketika berada dalam lingkungan ramai seperti di kantor, atau bahkan dijalan. Sedangkan untuk klasifikasi suara keras berkisar antara 70dB sampai dengan 120dB gambaran suara tersebut dapat di ilustrasikan seperti suara bisingnya mesin di bengkel, suara perbaikan jalan, bahkan suara ledakan petasan termasuk kedalam klasifikasi suara keras.

 
Untuk memudahkan pengertian Klasifikasi Frekuensi Audiogram dapat dibagi kedalam 2 bagian yaitu frekuensi rendah yang berada pada frekuensi suara 250Hz sampai 1500Hz. Sedangkan pada frekuensi suara Tinggi di mulai dari 2000Hz sampai dengan 8000Hz.

untuk menentukan alat bantu dengar kita tinggal menyesuaikan saja point point catatan audiogram dengan gambar seperti di gambar...lihat lebih jelas berada dimana yang paling banyak poin poin X yang menandakan telinga kiri atau poin poin 0 yang menandakan telinga kanan, semuanya ada pada hasil pemeriksaan (audiogram) untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar di bawah ini :
 
Bila hasil pemeriksaan audiometri menghasilkan point point yang mendekati klasifikasi seperti gambar di atas maka anda sudah dapat menentukan ala bantu dengar yang tepat untuk gangguan pendengaran yang anda alami. Untuk lebih jelasnya kita dapat melihat contoh hasil audiogram seperti di bawah ini :
 
 
Gambar Contoh hasil Audiogram diatas menunjukkan bahwa (X) / hantaran udara terbanyak yang berada di poin 40dB secara teori perhitungan ambang dengarnya dilihat hanya pada poin di frekuensi 500 1000 2000 dan 4000Hz di bagi 4 misalnya pada contoh diatas pada frekuensi 500=40dB, 1000=40dB, 2000=30dB, 4000=45dB maka dengan penentuan rumus menjadi 40+40+30+45:4=38,75 dapat disimpulkan penderita mengalami gangguan pendengaran dengan ambang dengar 39dB maka gangguan pendengarannya memiliki gangguan pendengaran ringan
untuk mempermudah maka di daerah berwarna kuning tersebut menandakan bahwa daerah tersebut merupakan Kehilangan Pendengaran ringan. Hal ini berarti Anda harus menggunakan alat bantu dengar yang sesuai yaitu Kehilangan Pendengaran ringan. klik gambar di bawah ini, untuk mengetahui lebih jelas spesifikasi alat bantu dengar yang sesuai dengan hasil audiogram
 anda :




Apa itu Alat Bantu dengar ?


Alat bantu dengar atau Hearing Aid adalah sebuah alat elektronik yang fungsinya untuk membantu pendengaran manusia yang mengalami gangguan pendengaran, untuk dapat mendengar lebih baik, dapat berkomunikasi lebih baik dan Insya Allah untuk memberkan kualitas hidup yang lebih baik. Kacamata sering dapat membantu orang yang dalam tanda petik kurang mampu melihat lebih baik. Tongkat atau kursi roda sering dapat membantu orang-orang yang tidak bisa berjalan, bergerak lebih mudah.
Apa yang bisa membantu orang dengan gangguan pendengaran ?
Semua orang tahu kacamata atau tongkat tampak seperti hal yang umum. semua alat bantu itu digunakan oleh banyak orang di seluruh dunia. Sedangkan Alat bantu dengar tidak terlalu dikenal, dan tidak banyak orang yang tahu...

Apa yang alat bantu dengar lakukan ? 
- Mereka memungkinkan penderita gangguan pendengaran untuk mendengar suara lebih baik. Alat bantu dengar membuat suara terdengar lebih keras.
1. SIAPA SAJA YANG DAPAT MENGGUNAKAN ALAT BANTU DENGAR ?
Hampir semua orang, tua dan muda yang memiliki masalah gangguan pendengaran, dapat dibantu untuk mendengar lebih baik dengan memakai alat bantu dengar. Keberhasilan penggunaan alat bantu dengar bergantung pada banyak hal:
• pada usia berapa gangguan pendengaran terjadi
• apakah orang tuna rungu sudah berkembang dalam bahasa sehari hari
• berapa lama alat bantu dengar ini dipasang setelah gangguan pendengaran diidentifikasikan
• tingkat gangguan pendengaran - ringan, sedang, berat,sangat berat
• jenis gangguan pendengaran - konduktif, sensorineural
• bagaimana memotivasi para pemakai alat bantu dengar ini untuk memakai dan menggunakan alat bantu dengarnya
• sebaik apa alat bantu dengar dipasang dan dipelihara
• bantuan dan dukungan yang tersedia untuk belajar menggunakan alat bantu dengar terutama untuk anak-anak
• di mana alat bantu dengar digunakan - lingkungan yang tenang atau bising
Pada umumnya, orang dengan gangguan pendengaran pada salah satu telinga saja tidak perlu menggunakan alat bantu dengar.

2. MENGAPA ALAT BANTU DENGAR DIPERLUKAN ?
Orang tuna rungu perlu alat bantu dengar untuk membantu mereka berkomunikasi. Alat bantu dengar membantu mereka untuk mendengar percakapan dan suara lainnya. Kemampuan untuk mendengar semua suara tidak hanya meningkatkan kualitas hidup mereka, tetapi juga dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk belajar di rumah, di sekolah atau di tempat kerja. Alat bantu dengar dapat membantu mereka menjadi anggota aktif keluarga dan masyarakat mereka bukannya terisolasi dan sendirian.

3. KAPAN ALAT BANTU DENGAR HARUS DIPASANG ? 
Alat bantu dengar harus dipasang segera setelah gangguan pendengaran telah diidentifikasi. Menderita tuli atau mengalami gangguan, khususnya bayi dan anak-anak kecil perlu mendengar dengan baik dalam rangka pengembangan berbicara dan bahasa mereka, sehingga harus dilengkapi dengan alat bantu dengar dan diajarkan bagaimana menggunakannya. Pentingnya pembelajaran bahasa saat periode emasnya dapat hilang, ketika seorang anak yang mengalami gangguan pendengaran tidak dilengkapi dengan alat bantu dengar.

4. DI MANA ALAT BANTU DENGAR DAPAT DIPEROLEH ?
Alat bantu dengar harus dipasang setelah tes pendengaran yang akurat diperoleh. Alat bantu dengar (termasuk earmoulds) harus dengan benar dipasang ke dalam telinga. Pengguna alat bantu dengar dan keluarga mereka harus diberikan instruksi dan bantuan tentang cara menggunakan alat bantu dengar dan merawatnya. Alat bantu dengar hanya boleh diperoleh dari orang yang berkualifikasi dengan pelatihan yang tepat dan pengalamannya dibidang ini,untuk melakukan semua tugas ini.
INGAT!!!  Alat bantu dengar bukanlah penyembuhan ajaib untuk tunarungu, alat ini adalah suatu "bantuan" yang membantu orang yang mengalami gangguan pendengaran untuk mendengar suara lebih baik.

Pelayanan Better Hearing


1. Penjualan Alat Bantu Dengar
 PENJUALANKami menjual Alat Bantu Dengar buatan Denmark dengan berbagai macam pilihan tehnologi terkini. Dengan memahami  berbagai kebutuhan penderita gangguan pendengaran, kami hadir untuk menjadi salah satu solusi bagi masalah pendengaran anda. Dengan berbagai pilihan alat bantu dengar yang di sesuaikan dengan kebutuhan gangguan pendengaranAlat bantu dengar yang kami jual dapat mencakup berbagai gangguan pendengaran mulai dari gangguan pendengaran ringan, sedang, berat maupun gangguan pendengaran sangat berat. 
Kami merupakan distribur resmi Interton yang merupakan produsen Alat bantu dengar yang didirikan di Jerman pada tahun 1962. Kini menjadi satu bagian dari sebuah organisasi alat bantu dengar terbesar di dunia yakni GN Group. Kami menggunakan teknologi utamanya yang telah terbukti unggul selama ini. Kami percaya dan kami yakin, bahwa sebagian besar orang memerlukan alat bantu dengar terus berkembang, berfungsi dengan optimal serta mudah dalam penggunaannya dan tentunya dengan harga yang cukup terjangkau. Itulah yang akan kami berikan.
INTERTON menyadari bahwa kebanyakan orang menginginkan alat bantu dengar yang meningkatkan kemampuan mereka memahami setiap percakapan pada situasi yang cukup bising, serta pemakaian yang cukup tersembunyi baik di dalam atau dibelakang daun telinganya. Anda mengharapkan alat yang mudah dalam pemakaiannya dan kami akan menyediakannya untuk anda dengan harga yang pantas. Sebenarnya itulah yang akan anda dapatkan bersama Interton, dan kami menyebutnya dengan Essential Hearing (Mendengar dengan sebenar-benarnya)
Kami telah mengembangkan dan memproduksi alat bantu dengar selama hampir 50 tahun. Dan telah terjual di lebih dari 70 negara. Kini, kami adalah bagian dari GN Group dan kami menggunakan teknologi GN dalam memproduksi alat bantu dengar yang berkualitas. Selama 2009 sampai 2010, kami telah memperbaharui portofolio kami, menambahkan delapan seri produk dan software fitting baru yang mudah digunakan. Dimana setiap seri produk memiliki profil serta harga yang berbeda. Membuatnya semakin mudah menentukan alat bantu dengar yang sesuai dengan keperluan dan anggaran masing-masing pemakai.
2. Penjualan Aksesoris
AKSESORISUntuk memenuhi kebutuhan power suplay dari alat bantu dengar, kami menyediakan baterai dengan merk Interton, sesuai dengan merk alat bantu dengarnya. Baterai yang kami jual mulai dari batre size 10, 312, 13, atau batre size 675 harga semua baterai sama yaitu satu roll berjumlah 6 butir baterai seharga Rp40.000. Satu baterai dapat bertahan kurang lebih dua minggu, tergantung dari volume yang diatur pada alat bantu dengar dan pemakaian alat bantu dengar. Jika pemakaian normal satu roll dapat digunakan untuk kurun waktu kurang lebih 3 bulan. Dengan penjualan aksesoris seperti baterai ini, semuanya akan melengkapi kebutuhan anda dalam mengguanakan alat bantu dengar. Accecoris lain yang kami jual ada berupa klip yang fungsinya untuk anak anak yang menggunakan alat bantu dengar agar alat yang di pakai tidak terjatuh, karena anak anak yang sangat aktif dapat membuat alat bantu dengar terjatuh, dengan memakai klip alat bantu dengar, maka alat bantu dengar anak anda akan tidak mudah terlepas dan hilang. 
  
3. Perawatan dan Perbaikan
SERVICE
Untuk menjaga alat bantu dengar yang anda miliki dari kerusakan, kami memberikan Garansi service selama 3 tahun, gratis!!! dan sparepat akan kami Garansi selama 2 tahun. Begitu tingginya komitment kami kepada anda dalam menjaga Alat bantu dengar yang anda beli dari kami. Untuk menjaga alat bantu dengar yang anda beli dari better hearing indonesia, kami menyarankan agar men service alat bantu dengar anda kurang lebih 6 bulan sekali, agar alat bantu dengar yang anda miliki dapat terjaga kelayakannya. Anda tidak perlu khawatir apabila ada penggantian sparepat pada alat bantu dengar yang anda beli di kami, karena garansi sparepat yang kami berikan kepada anda adalah 2 tahun. Jadi selama 2 tahun apabila alat bantu dengar yang anda beli di kami sudah rusak, kami akan memperbaiki alat bantu dengar anda secara gratis, sampai alat bantu dengar milik anda dapat berfungsi seperti semula lagi. Tetapi bila belum 3 tahun atau 2 tahun lebih alat bantu dengar anda rusak, anda hanya di kenakan biaya penggantian sparepat saja, sedangkan biaya service nya masih gratis. Jika anda membeli alat bantu dengar di tempat lain anda hanya akan mendapatkan garansi selama 1 tahun. Inilah keuntungan anda membeli alat bantu dengar di tempat kami, garansinya lebih lama.  


4. Pemeriksaan Pendengaran
AUDIOMETRIPenggunaan alat bantu dengar yang tepat akan memberikan kenyamanan pada pemakainya. Untuk memberikan alat bantu dengar yang tepat di butuhkan pememeriksaan pendengaran, di Better hearing Indonesia ini kami menyediakan pemeriksaan pendengaran Gratis bagi anda yang membeli alat bantu dengar, untuk pasien rujukan dari dokter di kenakan biaya Rp.50.000. Tidak perlu bingung bila anda kurang pendengaran, langsung bawa ke tempat kami untuk konsultasi dan periksa pendengaran anda. Pendengaran anda akan dilihat sampai sejauh mana gangguan pendengarannya. Jika memang memerlukan alat bantu dengar anda dapat langsung mencobanya, untuk melihat sejauh mana alat bantu dengar kami, dapat membantu pendengaran anda. Dengan hasil pemeriksaan pendengaran ini anda jadi tau sejauh mana pendengaran anda setelah di periksa, dan jika memang anda mengalami gangguan pendengaran, ini akan menjadi landasan dasar untuk di berikan alat bantu dengar apa yang cocok dengan kebutuhan pendengaran anda.

5. Kunjungan ke rumah
HOME VISITAnda tidak sempat datang ke tempat kami ??? tidak perlu khawatir, kami yang akan datang ke tempat anda… melakukan konsultasi di tempat anda, pemeriksaan pendengaran di tempat anda, dan coba alat bantu  dengar di tempat anda, jika anda berminat dengan alat bantu dengarnya, anda bisa langsung melakukan transaksi untuk pembelian atau pemesanan alat bantu dengar yang kami bawa. Jadi anda atau keluarga anda tidak perlu repot untuk datang ke tempat kami, cukup anda hubungi kami, lalu buat janji untuk minta kunjungan ke rumah, kami akan datang kerumah anda sesuai perjanjian. Hal ini juga dapat dilakukan bila anda ingin membeli baterai tetapi anda tidak sempat untuk datang ke tempat kami sedangkan kebutuhan sangat mendesak, cukup kami yang datang kerumah anda untuk memberikan pesanan baterai kepada anda, tentu saja dengan kesepakatan terlebih dahulu, atau sudah membuat janji terlebih dahulu sebelumnya. Semuanya dibuat semudah mungkin karena kami terus berusaha memberikan pelayanan yang terbaik, demi kenyamanan anda. Jadi tunggu apalagi ? segera buat janji dengan kami, konsultasikan masalah anda maka kami akan datang ke tempat anda.

Tes Pendengaran Anak


Kompas.com - Anak belajar berbicara berdasarkan apa yang dia dengar. Dengan demikian gangguan pendengaran yang dialami anak sejak lahir akan mengakibatkan keterlambatan berbicara dan berbahasa. Bayi dengan fungsi pendengaran normal akan mengalami tahapan perkembangan bahasa dan berbicara (speech-language-auditory milestones) sebagai berikut:* Bayi sampai usia 3 bulan.
Biasanya akan terbangun mendengar suara keras. Ia pun akan berkedip jika seseorang bertepuk di dekat telinganya.* Usia 4 bulan.
Ia akan tenang mendengar suara ibunya. Selain mencari arah suara dari sumber yang tidak terlihat.
* Usia 6-9 bulan.
Dapat menikmati musik dari mainannya dan mulai bisa mengatakan "mama".
* Usia 12-15 bulan.
Bereaksi jika namanya dipanggil, mengerti perintah sederhana, dapat meniru beberapa suara, dan memiliki perbendaharaan 3-5 kata.
* Usia 18-24 bulan.
Sudah mengerti bagian-bagian tubuh dan 50% perkataannya dapat dimengerti oleh orang yang mendengar. Anak sudah mempunyai perbendaharaan 20 -50 kata.
* Mulai usia 36 bulan.
Bisa menyusun kalimat yang terdiri dari 4-5 kata. Sekitar 80% pembicaraannya sudah dapat dimengerti orang lain.
RAGAM PEMERIKSAAN

Bila anak gagal mencapai milestones atau tonggak-tonggak perkembangan tersebut, besar kemungkinan ia mengalami gangguan pada fungsi pendengaran. Untuk mengatasinya, diperlukan pemeriksaan pendengaran. Pemeriksaan yang dilakukan sedini mungkin memungkinkan bayi dan anak yang berisiko mengalami gangguan pendengaran dapat segera menjalani program habilitasi (melatih kemampuan mendengar pada anak yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan mendengar). Nah, lewat habilitasi ini efek lanjut dari gangguan pendengaran, di antaranya keterlambatan atau gangguan berbicara dan berbahasa, dapat dicegah sedini mungkin.

Mengingat masa perkembangan fungsi pendengaran sedang berlangsung, maka teknik pemeriksaan perlu disesuaikan dengan usia anak. Biasanya akan dilakukan beberapa pemeriksaan sekaligus sebelum mengambil kesimpulan mengenai adanya gangguan pendengaran. Hasil uji pendengaran ini dapat tercatat dalam audiogram yang terisi secara otomatis selama uji pendengaran yang mencatat level daya dengar dalam berbagai frekuensi (misalnya suara rendah dan suara tinggi).
Berikut tahapan pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk bayi yang baru berusia 2 hari. Selain juga untuk orang dewasa.
Pada bayi, pemeriksaan ini dapat dilakukan saat beristirahat/tidur. Tesnya tergolong singkat dan tidak sakit, namun memberi hasil akurat. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui fungsi sel rambut pada cochlea/rumah siput. Hasilnya dapat dikategorikan menjadi dua, yakni pass dan refer. Pass berarti tidak ada masalah, sedangkan refer artinya ada gangguan pendengaran hingga harus dilakukan pemeriksaan berikut.1. Otoscopy
Pemeriksaan dengan menggunakan alat semacam teropong ini tergolong pemeriksaan awal. Fungsinya untuk melihat liang telinga, apakah ada infeksi atau kotoran telinga.
2. Tympanometry
Pemeriksaan lanjutan ini bertujuan untuk mengetahui fungsi telinga tengah.
3. Oto Acoustic Emissions (OAE)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk bayi yang baru berusia 2 hari. Selain juga untuk orang dewasa. Pada bayi, pemeriksaan ini dapat dilakukan saat beristirahat/tidur. Tesnya tergolong singkat dan tidak sakit, namun memberi hasil akurat. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui fungsi sel rambut pada cochlea/rumah siput. Hasilnya dapat dikategorikan menjadi dua, yakni pass dan refer. Pass berarti tidak ada masalah, sedangkan refer artinya ada gangguan pendengaran hingga harus dilakukan pemeriksaan berikut.
4. Auditory Brainstem Response (ABR)
Cara pemeriksaannya hampir sama dengan OAE. Bayi mulai usia 1 bulan sudah dapat dilakukan tes ini, Automated ABR yang berfungsi sebagai screening, juga dengan 2 kategori, yakni pass dan refer. Hanya saja alat ini cuma mampu mendeteksi ambang suara hingga 40 dB. Sedangkan guna mengetahui lebih jauh gangguan pendengaran yang diderita, lazimnya dilakukan pemeriksaan lanjutan, dengan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry)
5. Conditioned Oriented Responses (CORs)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada bayi usia 9 bulan sampai 2,5 tahun untuk mengetahui perkiraan ambang dengar anak. Caranya, gunakan alat yang dapat mengeluarkan bunyi-bunyian dan biarkan anak mencari sumber bunyi tersebut.
6. Visual Reinforced Audiometry (VRA)
Pemeriksaan ini juga dapat dilakukan pada bayi usia 9 bulan sampai 2,5 tahun. Pemeriksaan yang hampir sama dengan CORs ini juga berfungsi untuk mengetahui ambang dengar anak. Tergolong pemeriksaan subjektif karena membutuhkan respons anak. Namun pada tes ini selain diberikan bunyi-bunyi, alat yang digunakan juga harus dapat menghasilkan gambar sebagai reward bila anak berhasil memberi jawaban. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sambil bermain.
7. Play Audiometry
Pemeriksaan yang juga berfungsi mengetahui ambang dengar anak ini dapat dilakukan pada anak usia 2,5-4 tahun. Caranya? Menggunakan audiometer yang menghasilkan bunyi dengan frekuensi dan intensitas berbeda. Bila anak mendengar bunyi itu berarti sebagai pertanda anak mulai bermain misalnya harus memasukkan benda ke kotak di hadapannya atau bermain pasel.
8. Conventional Audiometry
Pemeriksaan ini dapat dilakukan anak usia 4 tahun sampai remaja. Fungsinya untuk mengetahui ambang dengar anak. Caranya dengan menggunakan alat audiometer yang mampu mengeluarkan beragam suara, masing-masing dengan intensitas dan frekuensi yang berbeda-beda. Tugas si anak adalah menekan tombol atau mengangkat tangan bila mendengar suara.
9. Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada semua usia. Fungsinya, untuk mengetahui respons ambang dengar seseorang. Pemeriksaan yang tergolong objektif ini mengharuskan anak dalam keadaan tidur, hingga anak harus dikondisikan tidur lebih dulu.
PEMERIKSAAN YANG DILAKUKAN DI TOA JALA PUSPA – RSAL Dr. RAMELAN
  • Tympanometri
Menilai fungsi telinga tengah
  • BOA (Behavioral Observation Audiometri)
Menilai kemampuan anak dalam memberikan respon terhadap rangsang bunyi dengan mengamati perilaku anak.
  • Play Audiometri
Menilai fungsi pendengaran anak yang dilakukan sambil bermain
  • OAE (Oto Acoustic Emition)
Menilai fungsi Cochlea secara obyektif dan dapat dilakukan dalam waktu yang singkat.
  • ABR (Auditory Brainstem Response)
Pemeriksaan yang menilai secara obyektif jalur pendengaran sepanjang N.VIII (N. Auditorius)
  • ASSR (Auditory Steady State Response)
Pemeriksaan yang hampir sama dengan ABR namun hasilnya dapat menunjukkan beberapa frekuensi spesifik pendengaran dalam waktu singkat.
L akukan sedini mungkin agar jika terjadi gangguan dapat sesegera mungkin dilakukan habilitasi.
Anak belajar berbicara berdasarkan apa yang dia dengar. Dengan demikian gangguan pendengaran yang dialami anak sejak lahir akan mengakibatkan keterlambatan berbicara dan berbahasa. Bayi dengan fungsi pendengaran normal akan mengalami tahapan perkembangan bahasa dan berbicara (speech-language-auditory milestones) sebagai berikut:
Biasanya akan terbangun mendengar suara keras. Ia pun akan berkedip jika seseorang bertepuk di dekat telinganya.
Ia akan tenang mendengar suara ibunya. Selain mencari arah suara dari sumber yang tidak terlihat.
Dapat menikmati musik dari mainannya dan mulai bisa mengatakan "mama".
Bereaksi jika namanya dipanggil, mengerti perintah sederhana, dapat meniru beberapa suara, dan memiliki perbendaharaan 3-5 kata.
Sudah mengerti bagian-bagian tubuh dan 50% perkataannya dapat dimengerti oleh orang yang mendengar. Anak sudah mempunyai perbendaharaan 20 -50 kata.
Bisa menyusun kalimat yang terdiri dari 4-5 kata. Sekitar 80% pembicaraannya sudah dapat dimengerti orang lain.
RAGAM PEMERIKSAAN
Bila anak gagal mencapai milestones atau tonggak-tonggak perkembangan tersebut, besar kemungkinan ia mengalami gangguan pada fungsi pendengaran. Untuk mengatasinya, diperlukan pemeriksaan pendengaran. Pemeriksaan yang dilakukan sedini mungkin memungkinkan bayi dan anak yang berisiko mengalami gangguan pendengaran dapat segera menjalani program habilitasi (melatih kemampuan mendengar pada anak yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan mendengar). Nah, lewat habilitasi ini efek lanjut dari gangguan pendengaran, di antaranya keterlambatan atau gangguan berbicara dan berbahasa, dapat dicegah sedini mungkin.
Mengingat masa perkembangan fungsi pendengaran sedang berlangsung, maka teknik pemeriksaan perlu disesuaikan dengan usia anak. Biasanya akan dilakukan beberapa pemeriksaan sekaligus sebelum mengambil kesimpulan mengenai adanya gangguan pendengaran. Hasil uji pendengaran ini dapat tercatat dalam audiogram yang terisi secara otomatis selama uji pendengaran yang mencatat level daya dengar dalam berbagai frekuensi (misalnya suara rendah dan suara tinggi). Berikut tahapan pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk bayi yang baru berusia 2 hari. Selain juga untuk orang dewasa. Pada bayi, pemeriksaan ini dapat dilakukan saat beristirahat/tidur. Tesnya tergolong singkat dan tidak sakit, namun memberi hasil akurat. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui fungsi sel rambut pada cochlea/rumah siput. Hasilnya dapat dikategorikan menjadi dua, yakni pass dan refer. Pass berarti tidak ada masalah, sedangkan refer artinya ada gangguan pendengaran hingga harus dilakukan pemeriksaan berikut.
1. Otoscopy
Pemeriksaan dengan menggunakan alat semacam teropong ini tergolong pemeriksaan awal. Fungsinya untuk melihat liang telinga, apakah ada infeksi atau kotoran telinga.
2. Tympanometry
Pemeriksaan lanjutan ini bertujuan untuk mengetahui fungsi telinga tengah.
3. Oto Acoustic Emissions (OAE)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk bayi yang baru berusia 2 hari. Selain juga untuk orang dewasa. Pada bayi, pemeriksaan ini dapat dilakukan saat beristirahat/tidur. Tesnya tergolong singkat dan tidak sakit, namun memberi hasil akurat. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui fungsi sel rambut pada cochlea /rumah siput. Hasilnya dapat dikategorikan menjadi dua, yakni pass dan refer . Pass berarti tidak ada masalah, sedangkan refer artinya ada gangguan pendengaran hingga harus dilakukan pemeriksaan berikut.
4. Auditory Brainstem Response (ABR)
Cara pemeriksaannya hampir sama dengan OAE. Bayi mulai usia 1 bulan sudah dapat dilakukan tes ini, AutomatedABR yang berfungsi sebagai screening , juga dengan 2 kategori, yakni pass dan refer . Hanya saja alat ini cuma mampu mendeteksi ambang suara hingga 40 dB. Sedangkan guna mengetahui lebih jauh gangguan pendengaran yang diderita, lazimnya dilakukan pemeriksaan lanjutan, dengan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry )
5. Conditioned Oriented Responses (CORs)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada bayi usia 9 bulan sampai 2,5 tahun untuk mengetahui perkiraan ambang dengar anak. Caranya, gunakan alat yang dapat mengeluarkan bunyi-bunyian dan biarkan anak mencari sumber bunyi tersebut.
6. Visual Reinforced Audiometry (VRA)
Pemeriksaan ini juga dapat dilakukan pada bayi usia 9 bulan sampai 2,5 tahun. Pemeriksaan yang hampir sama dengan CORs ini juga berfungsi untuk mengetahui ambang dengar anak. Tergolong pemeriksaan subjektif karena membutuhkan respons anak. Namun pada tes ini selain diberikan bunyi-bunyi, alat yang digunakan juga harus dapat menghasilkan gambar sebagai reward bila anak berhasil memberi jawaban. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sambil bermain.
7. Play Audiometry
Pemeriksaan yang juga berfungsi mengetahui ambang dengar anak ini dapat dilakukan pada anak usia 2,5-4 tahun. Caranya? Menggunakan audiometer yang menghasilkan bunyi dengan frekuensi dan intensitas berbeda. Bila anak mendengar bunyi itu berarti sebagai pertanda anak mulai bermain misalnya harus memasukkan benda ke kotak di hadapannya atau bermain pasel.
8. Conventional Audiometry
Pemeriksaan ini dapat dilakukan anak usia 4 tahun sampai remaja. Fungsinya untuk mengetahui ambang dengar anak. Caranya dengan menggunakan alat audiometer yang mampu mengeluarkan beragam suara, masing-masing dengan intensitas dan frekuensi yang berbeda-beda. Tugas si anak adalah menekan tombol atau mengangkat tangan bila mendengar suara.
9. Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada semua usia. Fungsinya, untuk mengetahui respons ambang dengar seseorang. Pemeriksaan yang tergolong objektif ini mengharuskan anak dalam keadaan tidur, hingga anak harus dikondisikan tidur lebih dulu.
Cara Mudah LAKUKAN PEMERIKSAAN
Orangtua semestinya mulai curiga bila memasuki usia setahun tapi anak belum mampu mengucapkan 1-2 kata sekalipun. Atau bila dipanggil tidak pernah menoleh atau memberi respons. Ini dapat dijadikan pertanda bahwa anak memiliki gangguan pendengaran. Ada cara pemeriksaan praktis dan sederhana yang dapat dilakukan di rumah.
Tanpa sepengetahuan anak, cobalah berdiri di belakangnya. Kemudian ciptakan bunyi-bunyian lumayan keras, seperti dari peralatan rumah tangga semisal panci, penggorengan, dan lain-lain. Amati reaksinya. Bila anak memiliki pendengaran yang baik maka ia akan menoleh mencari sumber suara tersebut. Tapi, bila ia tampak tenang dan tidak terusik. maka jadikan acuan bahwa anak memiliki gangguan pendengaran.
Kebiasaan PERUSAK PENDENGARAN
Bila yang bersangkutan mendengar suara bising yang terus-menerus. Gangguan pendengaran ini dikenal dengan nama trauma akustik. Gangguan ini dapat bersifat sementara yang bisa kembali normal namun dapat menetap. Hal ini biasanya terjadi pada para pekerja pabrik yang kerap mendengar suara keras atau mencapai lebih dari 90 dB. Bisa dimaklumi karena frekuensi percakapan normal dalam suasana tenang berkisar antara 45-60 dB.
Kerap mendengarkan musik lewat MP3 atau walkman secara terus menerus sambil menggunakan earphone. Kebiasaan ini dapat merusak pendengaran bila dilakukan dengan volume suara keras dan langsung dipasang di telinga.
Kebiasaan membersihkan telinga. Semestinya telinga tidak perlu dibersihkan bagian dalamnya. Cukup pada bagian daun telinga atau telinga luar. Hindari mengorek telinga dengan korek kuping atau benda lainnya karena bila terlalu dalam dapat merusak gendang telinga.
Penyebab GANGGUAN PENDENGARAN
Mengacu pada data yang melakukan penelitian pada 1994-1996 di 7 provinsi di Indonesia, secara kasar diperkirakan 3 dari 1.000 anak mengalami gangguan pendengaran. Dalam banyak kasus, gangguan pendengaran tidak melulu disebabkan faktor keturunan. Beberapa disebabkan oleh kondisi yang terjadi sebelum atau saat kelahiran, semasa bayi atau masa kanak-kanak yang dapat memengaruhi kemampuan anak untuk mendengar secara normal.
Penyebab gangguan pendengaran yang terjadi sebelum atau saat kelahiran pun cukup beragam. Bisa saja di awal-awal kehamilannya si ibu mengonsumsi obat kina, salisilat atau antibiotik tertentu. Demikian juga bila si kecil lahir dari keluarga tuli yang sejak lahir. Atau saat hamil ibu mengalami infeksi Toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus , Herpes, Sifilis (TORCHS).
Sedangkan penyebab pada saat bayi lahir dapat karena lahir kurang bulan (prematur); berat badan lahir rendah (kurang dari 1.500 gram); bayi kuning dengan kadar bilirubin tinggi; nilai Apgar rendah atau tidak langsung menangis saat lahir; proses kelahiran melalui operasi; lahir dengan bantuan alat (forcep ). Penyebab lain adalah sakit yang diderita si anak, semisal meningitis, ensefalitis, virus gondongan, infeksi telinga tengah atau infeksi saluran napas bagian atas (pilek kronis) yang tidak tertangani secara tuntas.