Interton

Essential Hearing.

Interton TV Streamer

Enjoy a great TV experience with Interton wireless TV Streamer.

Better Hearing Indonesia

Better Hearing For a better quality of life...

Better Hearing Indonesia

get clear hearing for a better life..

Nano Coating

Maximum protection from sweat and humidity.

Jumat, 11 April 2014

Coba alat bantu dengar bisa dirumah loch... coba sekarang....

Sulit Mendengar ??? segera pakai alat bantu dengar.. 

ingin coba alat bantu dengar di rumah anda ??? SEGERA DAFTAR yuk.... 


Minggu, 02 Maret 2014

alat bantu dengar share 1.2


Keluarga ada yang sulit mendengar??

         segera gunakan alat bantu dengar..
  
Sulit mendengar di tempat ramai ??

Pakai alat bantu dengar Full Digital share 1.2 suara lebih Jernih, dapat lebih nyaman berkomunikasi di tempat ramai


sayangi keluarga anda yang mengalami gangguan pendengaran dengan memberikan
alat bantu dengar, untuk hidup yang lebih baik...



coba alat bantu dengar di rumah anda sekarang, klik gambar dan daftar 



http://alatbantudengarku.com/daftarcobaalatdirumah.php


Jumat, 13 Desember 2013

Hubungi Kami


Hubungi Kami segera

Nama


Telpon / hp


Alamat


Pesan


Ketik ulang kata di bawah ini lalu klik Kirim Pesan





Powered byEMF Contact Form

Minggu, 07 Juli 2013

Panduan Untuk Membeli Alat Bantu Dengar


Dengan beberapa pertanyaan yang sering diajukan kepada kami, Kami mencoba mengerti informasi yang anda butuhkan, dibawah ini ada beberapa pertanyaan dan langkah-langkah yang harus diketahui jika anda ingin membeli alat bantu dengar,  Silahkan Klik jawaban yang ada untuk mendapatkan informasi atau jawaban yang lebih detail:
1. Untuk siapa alat bantu dengar yang akan anda beli ?
  • ANAK 8 tahun kebawah
  • DEWASA/ Anak yang dapat diajak komunikasi dengan baik walaupun non verbal (bahasa Isyarat)

2. Apakah sudah melakukan pemeriksaan pendengaran ?

3. Apakah Hasil Gangguan Pendengarannya? 

4. Dimana Lokasi anda yang dekat dengan Kami?

5. Apakah Anda ingin Konsultasi langsung ?
Facebook, Yahoo, SKYPE, BBM : 2691B52E ,   

6. Tidak Bisa datang ke Tempat kami??  Ingin pelayanan dirumah anda ?

7. Jika telah melakukan pemeriksaan, maka anda akan di berikan memilih alat bantu dengar yang sesuai dengan kebutuhan pemakai alat bantu dengar, apakah yang menggunakan alat bantu dengar biasa di tempat ramai atau lebih sering di rumah, jika sering keluar rumah kami menyarankan agar memilih alat bantu dengar digital, agar suara lebih jernih dan dapat meredam suara bising, maka anda dapat melihat di spesifikasi alat bantu dengarnya semakain besar chanelnya biasanya suara akan semakin jernih, dan harganya pun lebih mahal. pilih lah alat yang sesuai kebutuhan, ini akan membantu anda dalam setiap penggunaan alat bantu dengar.

8. Setelah pembelian alat bantu dengar telah di lakukan agar alat bantu dengar dapat lebih tahan lama atau tidak gampang rusak, rajin lah setiap 4 bulan sekali alat bantu dengar harus di service di tempat kami


Jumat, 05 Juli 2013

Harga alat bantu dengar


Alat Bantu Dengar Jenis Integra merupakan alat bantu dengar Analog yang bila digunakan dalam kondisi ruang sangat bising atau berada di luar ruangan kurang dapat meredam suara bising, berbeda dengan alat bantu dengar stage 73, stage 83, stage 93 walaupun belum terlalu jernih tetapi dengan 4 chanel yang dimiliki memberikan suara yang cukup jernih dan dengan harga yang lebih murah, jika dibandingkan dengan alat bantu dengar lainnya. ingin mengetahui cara menentukan alat bantu dengar.























Better Hearing Indonesia Merupakan Interton Authorized 



Untuk menentukan Alat bantu dengar yang tepat dengan gangguan pendengarannya baca artikel di bawah ini:
http://alatbantudengar.blogspot.com/2013/03/menentukan-alat-bantu-dengar.html


Cara menentukan Alat bantu dengar

Kamis, 04 Juli 2013

Gangguan Pendengaran


Gangguan pendengaran konduktif terjadi ketika hantaran suara melalui telinga luar atau  telinga tengah mengalami masalah yang diantaranya disebabkan oleh :

  1. Adanya serumen atau kotoran telinga
  2. Gendang telinga yang mengalami perforasi (bolong) akibat penggunaan cotton bud atau benda lainnya
  3. Infeksi telinga tengah yang menimbulkan ada cairan
  4. Diperkirakan 10 % dari kasus gangguan pendengaran yang terjadi merupakan gangguan pendengaran tipe Konduktif
  5. Dimana biasanya dapat mengakibatkan penurunan pendengaran derajat ringan sampai dengan sedang
  6. Gangguan pendengaran tipe konduktif seringkali dapat ditangani secara medis, bahkan banyak ditemukan pendengaran dapat kembali normal.

Pada kasus gangguan pendengaran tipe konduktif, volume suara yang didengar berkurang. Gejala-gejala gangguan pendengaran tipe konduktif adalah sebagai berikut :

  • Suka menaikan volume (diatas volume rata-rata orag dengan pendengaran normal) pada saat menonton TV ataupun mendengarkan radio.
  • Meminta lawan bicara untuk mengulang percakapan.
  • Merasa mendengar lebih baik di salah satu telinga.
  • Sulit mendengar percakapan melalui telepon.
  • Menganggap orang lain berbicara tidak jelas atau bergumam.
  • Tidak jelas mendengar suara percakapan.
  • Sulit mendengar ditempat bising

Pada kasus gangguan pendengaran tipe konduktif, ketika volume suara dinaikkan pada tingkat yang dibutuhkan, biasanya suara (percakapan) akan langsung terdengar lebih jelas dan sekaligus dapat dipahami.
Jadi jika seseorang yang mengalami gangguan pendengaran tipe konduktif sedang menonton TV kemudian ia menaikan volume TV tersebut maka pada umumnya orang tersebut dapat mendengar secara jelas.
Ada beberapa gejala yang timbul pada gangguan pendengaran konduktif seperti Merasakan sakit pada telinga, Keluar cairan dari telinga, Telinga merasa tersumbat tergantung dari penyebabnya.
ada kasus gangguan pendengaran tipe sensorineural, volume suara yang didengar juga berkurang dan hal tersebut menyebabkan bunyi maupun suara percakapan tidak dapat ditangkap dengan jelas.
Orang yang mengalami gangguan pendengaran tipe sensorineural kadang-kadang suka mengatakan bahwasanya mereka dapat mendengar orang berbicara tapi tidak dapat memahami seluruh kata-kata yang didengar.
Syukurnya, saat ini banyak teknik penanganan gangguan pendengaran yang baru dan lebih efektif dibanding sebelumnya, untuk membantu orang yang mengalami gangguan pendengaran untuk mendengar lebih baik sehingga lebih produktif dalam mengisi kehidupan. 
Tinitus, dikenal sebagai bunyi mendenging yang berasal dari dalam telinga, seringkali terkait dengan adanya gangguan pendengaran. Tinitus juga didefinisikan sebagai bunyi denging ataupun bunyi bising lainnya yang terdengar dari dalam telinga ataupun kepala pada saat tidak ada suara dari luar. Tinitus dianggap bukan merupakan penyakit, namun sebuah gejala yang melatarbelakangi kondisi-kondisi yang terjadi pada telinga, syaraf pendengaran ataupun pada lokasi lainnya. Tinitus dapat dikategorikan ringan atau berat, jarang atau kronis. Penanganan suatu gangguan pendengaran, apakah itu dengan tindakan medis ataupun dengan pemakaian alat bantu dengar dapat mengurangi tinnitus. Saat ini Penanganan tinnitus yang baru dan efektif juga telah tersedia. Oleh karena itu sebuah pemeriksaan pendengaran yang menyeluruh adalah suatu langkah pertama yang penting dilakukan untuk menilai tingkat permasalahan dan penanganan tinitus.

Gangguan Pendengaran Tipe Sensori Neural
Gangguan pendengaran yang timbul akibat adanya masalah pada telinga bagian dalam disebut sebagai gangguan pendengaran tipe sensori neural / tuli syaraf. Diperkirakan 90 % dari total kasus gangguan pendengaran yang terjadi merupakan kasus sensorineural. Kasus ini paling sering terjadi akibat rusaknya sel-sel rambut bagian dalam. Dimana jika sel-sel rambut bagian dalam sudah rusak, sejauh ini ia tidak dapat memperbaiki sendiri ataupun dengan penangan medis.
Penyebab yang sering ditemukan pada gangguan pendengaran tipe sensori neural :

  1. Faktor genetik
  2. Sering terpapar bising
  3. Presbikusis (gangguan pendengaran yang terjadi karena menurunnya fungsi telinga bagian dalam seiring bertambahnya usia)

Penyebab lainnya dapat berupa :

  1. Konsumsi obat-obat yang berbahaya bagi telinga
  2. Tumor yang terjadi pada syaraf pendengaran
  3. Infeksi yang terjadi secara kongenital maupun dapatan seperti meningitis, mumps, dan sebagainya.
  4. Penyakit ginjal
  5. Penyakit saluran pernafasan

Dan Pada sebagian besar kasus, penyebabnya masih belum diketahui atau idiopatik. Gangguan pendengaran tipe sensorineural dapat menyebabkan kehilangan pendengaran dengan derajat ringan sampai dengan profound Lebih dari 95 % kasus gangguan pendengaran sensorineural dapat dibantu dengan menggunakan Alat Bantu Dengar dan Cochlear Implant

Gelombang suara dapat menemui hambatan disepanjang jalur pendengaran. Ketika gangguan pendengaran yang terjadi disebabkan adanya masalah pada telinga bagian luar/tengah dan telinga bagian dalam sekaligus maka disebut gangguan pendengaran tipe campur. Misalnya gangguan pendengaran tipe campur dapat terjadi pada seseorang yang sel-sel rambut bagian dalamnya mengalami kerusakan karena bertambahnya usia dan pada saat bersamaan orang tersebut juga mengalami infeksi pada telinga tengah akibat dari infeksi saluran pernafasan bagian atas.

Senin, 18 Maret 2013

Nano Coating - INTERTON


Maksimum perlindungan dari keringat dan kelembaban
Alat pendengar kami diperlakukan dengan lapisan tipis berbasis teknologi modern nano coat.
Nano coating adalah lapisan polimer, seribu kali lebih tipis dari rambut manusia, yang membentuk lapisan pelindung pada setiap bagian dari perangkat pendengaran. Ketika kelembaban atau keringat bersentuhan dengan itu, kelembapan itu akan membentuk seperti Kristal-kristal air, atau gambaran jelasnya anda dapat melihat daun talas yang terkena air.
Nano coating melindungi baik itu body Alat bantu dengar , dan semua elektronik di dalamnya dari segala jenis cairan. Hal ini meningkatkan masa pakai alat bantu dengar, dan sangat meningkatkan kehandalan.
Cukup Aman untuk memakainya
Pengguna alat bantu dengar tidak perlu khawatir lagi menggunakan alat bantu dengar dalam setiap kondisi, dan terbebas dari belenggu  rasa takut akan kelembapan. Tidak ada yang perlu di khawatir kan bila tanpa sengaja terkena hujan, keringat atau kelembaban lain. Anda akan merasa lebih percaya diri dan lebih puas dengan kualitas tinggi dari alat bantu dengar yang kami jual.
Singkatnya, nano coating menambah pengalaman bebas masalah dan pelanggan yang sangat puas.

Nano Coating
Untuk lebih jelas anda dapat Menonton sebuah video penjelasan mengenai  Nano coating.
Maksimum perlindungan
Nano coating melapisi Alat pendengaran anda untuk perlindungan yang maksimal terhadap kelembaban keringat,  dan bahkan langsung  air sekalipun.
lebih handal
Karena kelembapan tidak dapat menempel pada alat pendengar yang dilapisi nano coating dan sulit untuk merusak alat bantu dengar itu. Sedikit kelembapan air berarti jarang terjadi kerusakan dan akan membuat alat bantu dengar (jarang service karena rusak).
Tahan lebih lama
Dengan perlindungan alat bantu dengar dari kelembapan, komponen elektronik hampir tidak ada terjadi korosi, sehingga alat bantu dengar lebih awet dan tahan lama.
Higienis
Tidak ada yang menempel pada perangkat pendengaran. Tidak ada kelembaban, tidak ada air. Jadi mudah dibersihkan, dan terlihat seperti baru sepanjang masa.
Pengujian ekstensif menunjukkan perbedaan
Tes kelayakan yang kami lakukan menunjukan adanya perbedaan antara yang dilapisan nano coating dan tidak, ternyata menunjukan perbedaan pada alat bantu dengar. 
Kami lakukan pengetesan alat bantu dengar dengan memberikan kelembapan ke kondisi yang tidak biasanya dengan waktu 5 minggu dalam keadaan lembab.
Setelah pengujian, alat bantu dengar dengan nano coating menunjukan tidak ada efek sama sekali pada pemberian kelembapan selama 5 minggu. Sementara lebih dari 60% alat bantu dengar yang tidak dilapisi nano coating tidak berfungsi atau mati. Ini menunjukan nano coating 100% bekerja lebih baik dalam melindungi alat bantu dengar.

Tes Pendengaran Dewasa



Tes pendengaran untuk orang dewasa dapat dilakukan dengan cara subjektif, sangat berbeda dengan pemeriksaan anak dibawah usia 8 tahun yang harus dilakukan pemeriksaan objektif, yaitu si anak menjadi objek,  pemeriksa harus aktif menilai dengan menggunakan peralatan yang ada. anak usia diatas 9 tahun pun terkadang sudah dapat dilakukan dengan cara subjektif layaknya pemeriksaan dewasa. Pemeriksaan subjektif sangat dibutuhkan reaksi dari pasien, karena seorang pemeriksa akan melakukan perintah-perintah yang harus dipahami oleh pasien dan harus dijalankan sesuai instruksinya, adapun harus harus menjawab atau melakukan sesuatu harus dilakukan sesuai perintah pemeriksa, inilah yang dimaksud dengan tes subjektif
Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita, yaitu :
  1. Tes bisik.
  2. Tes bisik modifikasi.
  3. Tes garpu tala.
  4. Pemeriksaan audiometri.
  5. Tes Bisik

Ada 3 syarat utama bila kita melakukan tes bisik, yaitu :
  1. Syarat tempat.
  2. Syarat penderita.
  3. Syarat pemeriksa.

Ada 3 syarat tempat kita melakukan tes bisik, yaitu :
  1. Ruangannya sunyi.
  2. Tidak terjadi echo / gema. Caranya dinding tidak rata, terbuat dari soft board, atau tertutup kain korden.
  3. Jarak minimal 6 meter.

Ada 4 syarat bagi penderita saat kita melakukan tes bisik, yaitu :
  1. Kedua mata penderita kita tutup agar ia tidak melihat gerakan bibir pemeriksa.
  2. Telinga pasien yang diperiksa, kita hadapkan ke arah pemeriksa.
  3. Telinga pasien yang tidak diperiksa, kita tutup (masking). Caranya tragus telinga tersebut kita tekan ke arah meatus akustikus eksterna atau kita menyumbatnya dengan kapas yang telah kita basahi dengan gliserin.
  4. Penderita mengulangi dengan keras dan jelas setiap kata yang kita ucapkan.

Ada 2 syarat bagi pemeriksa saat melakukan tes bisik, yaitu :
  • Pemeriksa membisikkan kata menggunakan cadangan udara paru-paru setelah fase ekspirasi.
  • Pemeriksa membisikkan 1 atau 2 suku kata yang telah dikenal penderita. Biasanya kita menyebutkan nama benda-benda yang ada disekitar kita.
Teknik pemeriksaan pada tes bisik, yaitu :
Penderita dan pemeriksa sama-sama berdiri. Hanya pemeriksa yang boleh berpindah tempat. Pertama-tama pemeriksa membisikkan kata pada jarak 1 meter dari penderita. Pemeriksa lalu mundur pada jarak 2 meter dari penderita bilamana penderita mampu mendengar semua kata yang kita bisikkan. Demikian seterusnya sampai penderita hanya mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan kepadanya. Jumlah kata yang kita bisikkan biasanya 5 atau 10. Jadi tajam pendengaran penderita kita ukur dari jarak antara pemeriksa dengan penderita dimana penderita masih mampu mendengar 80% dari semua kata yang kita ucapkan (4 dari 5 kata).
Kita dapat lebih memastikan tajam pendengaran penderita dengan cara mengulangi pemeriksaan. Misalnya tajam pendengaran penderita 4 meter. Kita maju pada jarak 3 meter dari pasien lalu membisikkan 5 kata dan penderita mampu mendengar semuanya. Kita kemudian mundur pada jarak 4 meter dari penderita lalu membisikkan 5 kata dan penderita masih mampu mendengar 4 kata (80%).
Ada 2 jenis penilaian pada tes pendengaran, yaitu :
  • Penilaian kuantitatif seperti pemeriksaan tajam pendengaran pada tes bisik maupun tes bisik modifikasi.
  • Penilaian kualitatif seperti pemeriksaan jenis ketulian pada tes garpu tala dan audiometri.

Ada 3 jenis ketulian, yaitu :
  1. Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL).
  2. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL).
  3. Tuli sensorineural & konduktif / mix hearing loss (MHL).
Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi. Misalnya tidak dapat mendengar huruf S dari kata susu sehingga penderita mendengarnya uu.
Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss.

Ada 3 jenis frekuensi, yaitu :
  1. Frekuensi rendah. Meliputi 16 Hz, 32 Hz, 64 Hz, dan 128 Hz.
  2. Frekuensi normal. Frekuensi yang dapat didengar oleh manusia berpendengaran normal. Meliputi 256 Hz, 512 Hz, 1024 Hz, dan 2048 Hz.
  3. Frekuensi tinggi. Meliputi 4096 Hz dan 8192 Hz.
Tes bisik modifikasi merupakan hasil perubahan tertentu dari tes bisik. Tes bisik modifikasi kita gunakan sebagai skrining pendengaran dari kelompok orang berpendengaran normal dengan kelompok orang berpendengaran abnormal dari sejumlah besar populasi. Misalnya tes kesehatan pada penerimaan CPNS.
Cara kita melakukan tes bisik modifikasi, yaitu :
Kita melakukannya dalam ruangan kedap suara.
Kita membisikkan 10 kata dengan intensitas suara lebih kecil dari tes bisik konvensional karena jaraknya juga lebih dekat dari jarak pada tes bisik konvensional.
Cara kita memperlebar jarak dengan penderita yaitu dengan menolehkan kepala kita atau kita berada dibelakang penderita sambil melakukan masking (menutup telinga penderita yang tidak kita periksa dengan menekan tragus penderita ke arah meatus akustikus eksternus).
Pendengaran penderita normal bilamana penderita masih bisa mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan.

Ada 4 jenis tes garpu tala yang bisa kita lakukan, yaitu :
  1. Tes batas atas & batas bawah.
  2. Tes Rinne.
  3. Tes Weber.
  4. Tes Schwabach.

Tes Batas Atas & Batas Bawah
Tujuan kita melakukan tes batas atas & batas bawah yaitu agar kita dapat menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar pasien dengan hantaran udara pada intensitas ambang normal.
Cara kita melakukan tes batas atas & batas bawah, yaitu :
Semua garpu tala kita bunyikan satu per satu. Kita bisa memulainya dari garpu tala berfrekuensi paling rendah sampai garpu tala berfrekuensi paling tinggi atau sebaliknya.
Cara kita membunyikan garpu tala yaitu dengan memegang tangkai garpu tala lalu memetik secara lunak kedua kaki garpu tala dengan ujung jari atau kuku kita.
Bunyi garpu tala terlebih dahulu didengar oleh pemeriksa sampai bunyinya hampir hilang. Hal ini untuk mendapatkan bunyi berintensitas paling rendah bagi orang normal / nilai normal ambang.
Secepatnya garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien pada jarak 1-2 cm secara tegak dan kedua kaki garpu tala berada pada garis hayal yang menghubungkan antara meatus akustikus eksternus kanan dan kiri.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes batas atas & batas bawah yang kita lakukan, yaitu :
  1. Normal. Jika pasien dapat mendengar garpu tala pada semua frekuensi.
  2. Tuli konduktif. Batas bawah naik dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi rendah.
  3. Tuli sensorineural. Batas atas turun dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi tinggi.
Kesalahan interpretasi dapat terjadi jika kita membunyikan garpu tala terlalu keras sehingga kita tidak dapat mendeteksi pada frekuensi berapa pasien tidak mampu lagi mendengar bunyi.

Tujuan kita melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien.
Ada 2 cara kita melakukan tes Rinne, yaitu :
Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak mendengar bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya.
Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tankainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Segera pindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksternus. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garpu tala didepan meatus akustikus eksterna lebih keras dari pada dibelakang meatus akustikus eksterna (planum mastoid). Tes Rinne positif jika pasien mendengarnya lebih keras. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien mendengarnya lebih lemah.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes Rinne yang kita lakukan, yaitu :
  1. Normal. Jika tes Rinne positif.
  2. Tuli konduktif. Jika tes Rinne negatif.
  3. Tuli sensorineural. Jika tes Rinne positif.
Interpretasi tes Rinne dapat false Rinne baik pseudo positif dan pseudo negatif. Hal ini dapat terjadi manakala telinga pasien yang tidak kita tes menangkap bunyi garpu tala karena telinga tersebut pendengarannya jauh lebih baik daripada telinga pasien yang kita periksa.
Kesalahan pemeriksaan pada tes Rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan garpu tala tidak tegak lurus, tangkai garpu tala mengenai rambut pasien dan kaki garpu tala mengenai aurikulum pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal.
Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garpu tala saat kita menempatkan garpu tala di planum mastoid pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garpu tala sudah berhenti saat kita memindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksterna.

Tujuan kita melakukan tes Weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien.
Cara kita melakukan tes Weber yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis median (dahi, verteks, dagu, atau gigi insisivus) dengan kedua kakinya berada pada garis horizontal. Menurut pasien, telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras.
Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras pada 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua telinga pasien sama-sama tidak mendengar atau sama-sama mendengar maka berarti tidak ada lateralisasi.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes Weber yang kita lakukan, yaitu :
  1. Normal. Jika tidak ada lateralisasi.
  2. Tuli konduktif. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit.
  3. Tuli sensorineural. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sehat.
Misalnya terjadi lateralisasi ke kanan maka ada 5 kemungkinan yang bisa terjadi pada telinga pasien, yaitu :
  1. Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri normal.
  2. Telinga kanan dan telinga kiri mengalami tuli konduktif tetapi telinga kanan lebih parah.
  3. Telinga kiri mengalami tuli sensorineural sedangkan telinga kanan normal.
  4. Telinga kiri dan telinga kanan mengalami tuli sensorineural tetapi telinga kiri lebih parah.
  5. Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri mengalami tuli sensorineural.
Tujuan kita melakukan tes Schwabach adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dengan pasien.
Cara kita melakukan tes Schwabach yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. Setelah bunyinya tidak terdengar oleh pemeriksa, segera garpu tala tersebut kita pindahkan dan letakkan tegak lurus pada planum mastoid pasien. Apabila pasien masih bisa mendengar bunyinya berarti Scwabach memanjang. Sebaliknya jika pasien juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek atau normal.
Cara kita memilih apakah Schwabach memendek atau normal yaitu mengulangi tes Schwabach secara terbalik. Pertama-tama kita membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pasien. Setelah pasien tidak mendengarnya, segera garpu tala kita pindahkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. Jika pemeriksa juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach normal. Sebaliknya jika pemeriksa masih bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes Schwabach yang kita lakukan, yaitu :
  1. Normal. Schwabch normal.
  2. Tuli konduktif. Schwabach memanjang.
  3. Tuli sensorineural. Schwabach memendek.
Kesalahan pemeriksaan pada tes Schwabach dapat saja terjadi. Misalnya tangkai garpu tala tidak berdiri dengan baik, kaki garpu tala tersentuh, atau pasien lambat memberikan isyarat tentang hilangnya bunyi.
  1. Tuli Konduksi Tes Pendengaran Tuli Sensori Neural
  2. Tidak dengar huruf lunak
  3. Dengar huruf desis Tes Bisik Dengar huruf lunak
  4. Tidak dengar huruf desis
  5. Normal Batas Atas Menurun
  6. Naik Batas Bawah Normal
  7. Negatif Tes Rinne Positif, false positif / false negatif
  8. Lateralisasi ke sisi sakit Tes Weber Lateralisasi ke sisi sehat
  9. Memanjang Tes Schwabach Memendek
Daftar Pustaka
Prof. Dr. dr. Sardjono Soedjak, MHPEd, Sp.THT, dr. Sri Rukmini, Sp.THT, dr. Sri Herawati, Sp.THT & dr. Sri Sukesi, Sp.THT. Teknik Pemeriksaan Telinga, Hidung & Tenggorok. Jakarta : EGC. 2000.

Alat Bantu Dengar Gangguan Sangat Berat




Alat Bantu Dengar Gangguan Berat



Alat Bantu Dengar Gangguan Ringan - Sedang



Menentukan Alat Bantu Dengar


Bingung dalam memilih alat bantu dengar ?
Tak perlu binggung untuk memilih alat bantu dengar. Hal yang harus dilakukan dalam memilih untuk menggunakan alat bantu dengar yaitu dengan memeriksakan pendengaran menggunakan tes Audiometri terlebih dahulu, hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil Audiogram yang pada akhirnya dapat menentukan alat bantu dengar yang tepat untuk gangguan pendengaran yang dialami.
Definisi Audiometri nada murni
Audiometri nada murni adalah langkah pemeriksaan lanjutan setelah pasien melewati tahapan anamnesa dan otoskopi, definisi audiometri itu sendiri adalah pemeriksaan ambang dengar seseorang dengan memberikan stimulus bunyi pada frekuensi dan intensitas tertentu, hasil dari pemeriksaan Audiometer dicatat dalam suatu catatan yang disebut Audiogram
Pada dasarnya telinga manusia dapat mendengar melalui dua cara, pertama melalui hantaran udara dan yang kedua hantaran tulang. Pada proses mendengar melalui hantaran udara, bunyi didengar melalui jalur yang biasa, yaitu masuk melalui saluran pendengaran kemudian ke gendang telinga selanjutnya ke rumah siput hingga sampai ke otak. Sedangkan pada proses pendengaran melalui hantaran tulang, gelombang bunyi akan menggetarkan tulang tengkorak yang kemudian getaran tersebut akan menggetarkan hear cell di rumah siput, para ahli sendiri hingga kini belum mengetahui dengan jelas proses terjadinya bunyi melalui hantaran tulang secara detail. Contoh proses mendengar melalui hantaran tulang adalah apabila kita menggaruk kulit kepala kita, maka suara itu didengar melalui hantaran tulang, namun bila kita menggaruk baju kita maka proses mendengarnya adalah melalui hantaran udara. 
Pada tes pendengaran dengan menggunakan Audiometri terdapat dua tes yang dilakukan yang pertama hantaran udara dan hantaran tulang 

Audiogram merupakan catatan dari hasil pemeriksaan Audometri. pada Audiogram terdiri dari dua bentuk tingkatan yaitu frekuensi dan hearing level. Frekuensi diawali dari 250 – 8000HZ, dan Intensitas suara (hearing Level) dengan satuan dB (desible) dari -10 sampai 120dB.
Keterangan gambar cara membaca Audiogram untuk menentukan Alat bantu dengar yang tepat
0 hantaran udara telinga sebelah kiri, < hantaran tulang telinga sebelah kiri
X hantaran udara telinga sebelah kanan, > hantaran tulang telinga sebelah kanan
Pada hearing level dan frekuensi dapat di klasifikasikan seperti pada gambar di bawah ini :
Pada klasifikasi hearing Level disini kita dapat membaginya kedalam 3 bagian yaitu suara lembut yang berkisar antara -10dB sampai dengan 35dB ilustrasi gambaran suara lembut yaitu suara di suasan taman yang jauh dari keramaian. Untuk klasifikasi suara sedang kisaran 40dB sampai dengan 70dB suara yang termasuk kedalam suara sedang dapat di ilustrasikan pada suara ketika berada dalam lingkungan ramai seperti di kantor, atau bahkan dijalan. Sedangkan untuk klasifikasi suara keras berkisar antara 70dB sampai dengan 120dB gambaran suara tersebut dapat di ilustrasikan seperti suara bisingnya mesin di bengkel, suara perbaikan jalan, bahkan suara ledakan petasan termasuk kedalam klasifikasi suara keras.

 
Untuk memudahkan pengertian Klasifikasi Frekuensi Audiogram dapat dibagi kedalam 2 bagian yaitu frekuensi rendah yang berada pada frekuensi suara 250Hz sampai 1500Hz. Sedangkan pada frekuensi suara Tinggi di mulai dari 2000Hz sampai dengan 8000Hz.

untuk menentukan alat bantu dengar kita tinggal menyesuaikan saja point point catatan audiogram dengan gambar seperti di gambar...lihat lebih jelas berada dimana yang paling banyak poin poin X yang menandakan telinga kiri atau poin poin 0 yang menandakan telinga kanan, semuanya ada pada hasil pemeriksaan (audiogram) untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar di bawah ini :
 
Bila hasil pemeriksaan audiometri menghasilkan point point yang mendekati klasifikasi seperti gambar di atas maka anda sudah dapat menentukan ala bantu dengar yang tepat untuk gangguan pendengaran yang anda alami. Untuk lebih jelasnya kita dapat melihat contoh hasil audiogram seperti di bawah ini :
 
 
Gambar Contoh hasil Audiogram diatas menunjukkan bahwa (X) / hantaran udara terbanyak yang berada di poin 40dB secara teori perhitungan ambang dengarnya dilihat hanya pada poin di frekuensi 500 1000 2000 dan 4000Hz di bagi 4 misalnya pada contoh diatas pada frekuensi 500=40dB, 1000=40dB, 2000=30dB, 4000=45dB maka dengan penentuan rumus menjadi 40+40+30+45:4=38,75 dapat disimpulkan penderita mengalami gangguan pendengaran dengan ambang dengar 39dB maka gangguan pendengarannya memiliki gangguan pendengaran ringan
untuk mempermudah maka di daerah berwarna kuning tersebut menandakan bahwa daerah tersebut merupakan Kehilangan Pendengaran ringan. Hal ini berarti Anda harus menggunakan alat bantu dengar yang sesuai yaitu Kehilangan Pendengaran ringan. klik gambar di bawah ini, untuk mengetahui lebih jelas spesifikasi alat bantu dengar yang sesuai dengan hasil audiogram
 anda :